dita's Blog

Book Review: Ranah 3 Warna

Posted on: Oktober 11, 2011

Judul Buku: Ranah 3 Warna
Penulis: Ahmad Fuadi
Penerbit: Gramedia (PT. Gramedia Pustaka Utama)
Jumlah halaman: 473 Halaman
Harga: Rp.65.000,-


Ranah 3 Warna merupakan buku kedua   dari trilogi Negri 5 Menara. Hikayat yang    bercerita tentang bagaimana impian tetap  wajib dibela habis-habisan walau hidup  digelung nestapa tak berkesudahan.  Bagi  yang sudah membaca novel Negri 5  Menara pasti sudah kenal dengan tokoh  utamanya yang bernama Alif. Diceritakan  bahwa Alif telah menyelesaikan masa  belajarnya di Pondok Madani di Ponorogo.

Dengan semangat yang membara untuk segera kuliah, kembalilah ia ke kampung halamannya di Maninjau. Saat di kampung halaman Alif bertemu kembali dengan Randai sahabatnya. Kebetulan Randai sedang libur panjang dari ITB. Mimpi alif yang ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie diragukan oleh sahabatnya itu, mana mungkin Alif bisa lulus UMPTN dan kuliah disana tanpa ijazah SMA. Dari sinilah alif berjanji pada dirinya sendiri bahwa bagaimanapun caranya ia harus segera kuliah. Jalan satu-satunya ya dengan ikut ujian persamaan terlebih dahulu untuk mendapatkan ijazah SMA. Buku-buku dan catatan ia kumpulkan. Buku pelajaran SMA yang belum pernah ia pelajari pun didapat dari meminjam pada teman didekat rumahnya. Berbukit-bukit buku yang ia kumpulkan tak membuat semangatnya melorot.

Dipeganglah mantra Man jadda wajada sebagai motivasi kalau sedang kehilangan semangat. Akhirnya ujian persamaan datang juga. Dilepas doa dari Amak dan Ayah, Alif maju ke medan perang. Beberapa minggu kemudian pengumuman pun tiba, Alif hanya mendapatkan nilai rata-rata 6,5 dan ia tak tahu harus bersyukur atau prihatin. Selanjutnya Alif berhadapan dengan pertarungan yang lebih ketat yaitu UMPTN. Ia pun belajar lebih keras lagi. Terkadang rasa bosan datang menghampiri, ia membisikkan ke diri sendiri nasihat Imam Syafi’i, “berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” Jangan menyerah. Menyerah berarti menunda masa senang di masa datang.

Tibalah hari penentuan dimana UMPTN diadakan. Dengan menggumamkan bismillah mulailah Alif berkutat dengan soal-soal ujian itu. Hari demi hari berlalu, hari dibacakan pengumumannya pun tiba. Alif dan Ayah menelusuri angka-angka nomor peserta di surat kabar Haluan.  Dan hasilnya Alif diterima di jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, walaupun sebenarnya impian ia di Teknik Penerbangan ITB.

Hari sebelum keberangkatan Alif ke Bandung,  AyahAlif  membelikan sepasang sepatu kulit berwarna hitam. Sepatu inilah yang menapak di tanah perjalanan Alif yaitu Maninjau, Bandung dan Kanada. Itulah sebabnya novel ini diberi judul Ranah 3 Warna.

Dalam kehidupannya di Bandung mantra Man jadda wajada pun tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Lalu Alif ingat mantra kedua yang diajarkan di Pondok Madani, Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Dengan memegang kedua mantra tersebut ia siap menghadapi berbagai macam rintangan yang akan ia hadapi dikemudian hari. Hingga akhirnya sampailah Alif di tanah Kanada atas usaha yang sungguh-sungguh dan kesabaran yang tertanam dalam dirinya.

Rasa semangat yang dimiliki pada sosok Alif di novel ini patut kita contoh. Terkadang rintangan kecil saja yang kita hadapi membuat kita patah semangat dan putus asa. Padahal diluar sana banyak orang-orang yang menghadapi rintangan yang jauh lebih besar, tapi semangat mereka tetap membara demi terlewatinya rintangan-rintangan yang siap menghadang.

Saya amat suka membaca novel ini, karena banyak hikmah-hikmah yang dapat kita petik dan pelajari dari kandungan didalamnya. Banyak kalimat-kalimat motivasi yang penulis berikan didalam novel ini. Bagian yang menjadi favorit saya adalah ketika impian Alif untuk ke terbang ke Amerika tepatnya ke Kanada terwujud. Dikisahkan tentang perjalanan dan keadaan di negara berdaun maple tersebut.

Ingin rasanya membaca perjalanan kisah cinta Alif. Tapi bang A. Fuadi tidak menjelaskan secara rincinya. Siapapun boleh membaca cerita ini, terutama untuk orang-orang yang sedang kehilangan rasa semangatnya dalam menggapai impian-impian.

Sabar itu awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daripada madu.

“Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest  di BlogCamp “

9 Tanggapan to "Book Review: Ranah 3 Warna"

gara-gara buku ini jadi pengen nanti anakku masuk pesantren. hihi.. suka pas bagian belajar bahasa arab dan inggris di tingkat pertama. waw.. mantap! salut dengan penulisnya yang berani mengenalkan budaya pesantren pada pembaca awam.😀

betull mba🙂
hehehe..
aamiin.. moga anaknya jadi masuk pesantren nanti ya mbak😀

Mantapp dit.
tp aku blm baca buku ini..hehe🙂
boleh pinjem gak yah..hihi

boleeehhh,,
mana alamat dirimu😄

belum sempat baca yang ini… :3

wajib baca yang satu ini, hehehe..
salam kenal ya🙂

ehm,… saling follow yuk

Wah berarti ini lanjutan review ku dong ya..🙂
Aku suka buku triloginya A Fuadi ini..
Tapi yang bikin sebel adalah capek nunggu buku ketiganya keluar.. kata A Fuadi sih keluarnya tahun depan *Itu dia bisikin sendiri loh ke kupingku*😛

iya mba yuni, aku pun suka,,
gak sabar ya nunggu buku yang ketiga😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Oktober 2011
S S R K J S M
« Jun   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Universitas Gunadarma

RSS Berita Gunadarma

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Twiwiiit

Goodreads

%d blogger menyukai ini: