dita's Blog

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN BAB II WAWASAN NUSANTARA

Posted on: Maret 12, 2010

A. Wawasan Nasional Suatu Bangsa

Kata “wawasan” itu sendiri berasal dari awaws (bahasa Jawa) yang artinya melihat atau memandang. Dengan penambahan akhiran ”an” kata ini secara harfiah berarti, cara penglihatan atau cara tinjau atau cara pandang. Dalam mewujudkan aspirasi dan perjuangan, satu bangsa perlu memperhatikan tiga faktor utama:

  1. Bumi atau ruang dimana bangsa itu hidup
  2. Jiwa, tekad dan semangat manusianya atau rakyatnya
  3. Lingkungan sekitarnya

Dengan demikian, wawasan nasional adalah cara pandang suatu bangsa yang telah menegara tentang diri dan lingkungannya dalam eksistensinya yang serba terhubung dan dalam pembangunannya di lingkungan nasional, regional serta global.

B. Teori-Teori Kekuasaan

1. Paham-paham Kekuasaan

Perumusan wawasan nasional lahir berdasarkan pertimbangan dan pemikiran mengenai sejauh mana konsep operasionalnya dapat diwujudkan dan dipertanggungjawabkan. Karena itu, dibutuhkan landasan teori yang dapat mendukung rumusan wawasan nasional. Teori-teori yang dapat mendukung rumusan terseut antara lain:

a.PahamMachiaevelli(AbadXVII)
b. Paham Kaisar Napoleon Bonaparte (Abad XVIII)

c. Paham Jenderal Clausewitz (Abad XVIII)

d. Paham Feuerbach dan Hegel

e. Paham Lenin (Abad XIX)

f. Paham Lucian W.Pye dan Sidney

2. Teori-Teori Geopolitik

Geopolitik berasal dari kata ”geo”atau bumi dan politik yang berarti kekuatan yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan dasar dalam menentukan alternatif kebijaksanaan nasional untuk mewujudkan tujuan nasional.

Beberapa pendapat dari pakar-pakar Geoplotik antara lain sebagai berikut:

a. Pandangan Ajaran Frederich Ratzel

Ilmu Bumi Politik sebagai hasil penelitiannya yang ilmiah dan universal.

b. Pandangan Ajaran Rudolf Kjellen

Kjellen menegaskan bahwa negara adalah suatu organisme yang dianggap sebagai prinsip dasar.

c. Pandangan Ajaran Karl Haushofer

Teori ini pada dasarnya menganut teori/ ajaran/ pandangan Kjellen.

d. Pandangan Ajaran Sir Halford Mackinder

Teori ini menganut konsep kekuatan dan mencetuskan wawasan benua, yaitu konsep kekuatan di darat.

e. Pandangan Ajaran Sir Walter Raleigh dan Alferd Thyer Mahan

Kedua ahli ini mempunyai gagasan wawasan bahari yaitu kekuatan di lautan.

f. Pandangan Ajaran W.Mitchel, A Saversky, Giulio Douhet

Merek melahirkan teori wawasan dirgantara

g. Ajaran Nicholas J. Spykman

Ajaran ini menghasilkan teori yang dinamakan Teori Daerah Batas

C. Ajaran Wawasan Nasional Indonesia

1. Paham Kekuasaan Bangsa Indonesia

Ajaran wawasan nasional bangsa Indonesia menyatakan bahwa, ideologi digunakan sebagai landasan idiil dalam menentukan politik nasional, dihadapkan pada kondisi dan konstealasi geografi Indonesia dengan segala aspek kehidupan nasionalnya. Tujuannya adalah agar bangsa Indonesia dapat menjamin kepentingan bangsa dan negaranya di tengah-tengah perkembangan dunia.

2. Geopolitik Indonesia

Pemahaman tentang kekuatan dan kekuasaan yang dikembangkan di Indonesia didasarkan pada pemahaman tentang paham perang dan damai serta disesuaikan dengan kondisi dan kenstealasi geografi Indonesia.

3. Dasar Pemikiran Wawasan Nasional

Pembahasan latar belakang filosofis sebagai dasar pemikiran pembinaan dan pengembangan wawasan nasional Indonesia ditinjau dari:

a. Latar belakang pemikiran berdasarkan falsafah Pancasila

b. Latar belakang pemikiran aspek Kewilayahan Nusantara

c. Latar belakang pemikiran aspek Sosial Budaya Bangsa Indonesia

d. Latar belakang pemikiran aspek Kesejarahan Bangsa Indonesia

D. Latar Belakang Filosofis Wawasan Nusantara

1. Pemikiran Berdasarkan Falsafah Pancasila

Berdasarkan falsafah Pancasila, manusia Indonesia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang mempunyai naluri, akhlak, daya pikir dan sadar akan keberadaannya yang serba terhubung dengan sesamanya, lingkungannya, alam semesta dan penciptanya. Nilai-nilai Pancasila juga tercakup dalam penggalian dan pengembangan wawasan nasional.

2. Pemikiran Berdasarkan Aspek Kewilayahan Nusantara

Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957 menyatakan bahwa bentuk geografis Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil dengan sifat dan corak tersendiri. Deklarasi ini juga menyebutkan bahwa demi keutuhan teritorial dan untuk melindungi kekayaan negara yang terkandung di dalamnya, pulau-pulau serta laut yang ada di antaranya harus dianggap sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh.

Wawasan Nasioanal Indonesia yang memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi dan konsteladi geografis Indonesia mengharuskan tetap terpeliharanya keutuhan dan kekompakan wilayah, tetap dihargainya dan dijaganya ciri, karakter, serta kemampuan masing-masing daerah dan diupayakannya pemanfaatan nilai lebih dari geografi Indonesia.

3. Pemikiran Berdasarkan Aspek Sosial Budaya

Proses sosial dalam keseluruhan upaya menjaga persatuan nasional sangat membutuhkan kesamaan persepsi di antara segenap masyarakat tentang eksistensi budaya yang sangat beragam namun memiliki semangat untuk membina kehidupan bersama secara harmonis. Dengan adanya kesamaan persepsi ini wawasan nasional Indonesia diwarnai oleh keinginan untuk menumbuhsuburkan faktor-faktor positif, mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa dan mengurangi pengaruh negatif dari faktor-faktor yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa.

4. Pemikiran Berdasarkan aspek Kesejarahan

Wawasan Nasional Indonesia diwarnai oleh pengalaman sejarah yang tidak menginginkan terulangnya perpecahan dalam lingkungan bangsa dan negara Indonesia yang akan melemahkan perjuangan dalam mengisi kemerdekaan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional sebagai hasil kesepakatan bersama agar bangsa Indonesia setara dengan bangsa lain.

E. Implementasi Wawasan Nusantara dalam Kehidupan Nasional

1. Pengantar Implementasi Wawasan Nusantara

Wawasan Nusantara menjadi nilai yang menjiwai segenap peraturan perundang-undangan yang berlaku pada setiap strata dis eluruh wilayah negara, sehingga menggambarkan sikap dan perilaku, paham serta semangat kebangsaan atau nasionalisme yang tinggi yang merupakan identitas atau jati diri bangsa Indonesia.

2. Pengertian Wawasan Nusantara

Cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.

F. Ajaran dasar Wawasan Nusantara

1. Wawasan nusantara sebagai wawasan nasional Indonesia

2. Landasan Idiil: Pancasila

3. Landasan Konstitusional: UUD 1945

G. Unsur Dasar Konsepsi Wawasan Nusantara

Konsepsi wawasan nusantara terdiri dari tiga unsur dasar, yaitu wadah, isi dan tata laku.

H. Hakikat Wawasan Nusantara

Adalah keutuhan nusantara, dalam pengertian cara pandang yang selalu utuh menyeluruh dalam lingkup nusantara demi kepentingan nasional.

I. Asas Wawasan Nusantara

Terdiri dari kepentingan yang sama, tujuan yang sama, keadilan, kejujuran, solidaritas, kerjasama dan kesetiaan terhadap ikrar atau kesepakatan bersama demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan.

J. Arah Pandang

Dengan latar belakang budaya, sejarah, kondisi, konstelasi geografi dan perkembangan lingkungan strategis, arah pandang wawasan nusantara meliputi arah pandang ke dalam dan ke luar.

K. Kedudukan, Fungsi dan Tujuan

1. Kedudukan

Wawasan Nusantara menjadi landasan nasional dalam menyelenggarakan kehidupan nasional. Wawasan Nusantara dalam paradigma nasional.

2. Fungsi

Sebagai pedoman, motivasi, dorongan serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan, keputusan, tindakan dan perbuatan bagi penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

3. Tujuan

Mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala aspek kehidupan rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan nasioanal.

L. Sasaran Implementasi Wawasan Nusantara dalam Kehidupan Nasioanal

Wawasan Nusantara dapat diimplementsikan ke dalam segenap pranata sosial yang berlaku di masyarakat dalam nuansa kebhinekaan sehingga mendinamisasikan kehidupan sosial yang akrab, peduli, toleran, hormat dan taat hukum.

M. Permasyarakatan/ Sosialisasi Wawasan Nusantara

Dalam melaksanakan permasyarakatan, lingkup materi wawasan nusantara yang disampaikan hendaknya disesuaikan dengan tingkat, jenis, serta lingkungan pendidikan agar materi yang disampaikan tersebut dapat dimengerti dan dipahami. Dengan cara ini penerima materi akan memiliki kesatuan cara pandang yang sama yaitu wawasan nusantara.

N. Tantangan Implementasi Wawasan Nusantara

1. Pemberdayaan Masyarakat

2. Dunia tanpa batas

3. Era Baru Kapitalisme

4. Kesadaran Warga Negara

O. Prospek Implemetasi Wawasan Nusantara

Prospek Wawasan Nusantara dalam era mendatang masih tetap relevan dengan norma-norma global. Untuk menghadapi gempuran nilai global, fakta kebhinekaan dalam setiap rumusan yang memuat kata persatuan dan kesatuan perlu lebih ditekankan.

P. Keberhasilan Implementasi Wawasan Nusantara

Untuk mengetuk hati nurani setiap warga negara Indonesia agar sadar bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, diperlukan pendekatan denan program yang teratur, terjadwal dan terarah. Hal ini akan mewujudkan keberhasilan dari implementasi Wawasan Nusantara. Dengan demikian Wawasan Nusantara terimplementasi dalam kehidupan nasional guna mewujudkan ketahanan nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Maret 2010
S S R K J S M
« Jan   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Universitas Gunadarma

RSS Berita Gunadarma

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Twiwiiit

Goodreads

%d blogger menyukai ini: