dita's Blog

Aisyah r.a

Posted on: Januari 21, 2010

Aisyah lahir pada bulan Syawal, tahun kesembilan sebelum hijrah, bertepatan dengan bulan Juli, tahun 614 M, yaitu akhir tahun kelima setelah Muhammad diangkat menjadi rasul. Ayah Aisyah adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Nama asli Abu Bakar ash-Shiddiq adalah Abdullah. Ibu Aisyah bernama Ummu Ruman. Dari pihak ayah maupun ibu, Aisyah termasuk suku Quraisy-bani Taim dari Abu Bakar dan bani Kinanah dari Ummu Ruman. Aisyah merupakan salah seorang gadis Arab yang tumbuh dengan sangat cepat dari segi fisik. Pada usia sembilan atau sepuluh tahun, tubuh Aisyah terlihat matang dan menarik. Sejauh yang dapat disimpulkan dari beberapa riwayat, Aisyah memiliki kulit yang berwarna putih kemerah-merahan. Wajahnya bersinar, cantik dan elok dipandang.

Pada masa kecil, Aisyah telah ditampakkan tanda-tanda kemuliaan, keagungan dan kebahagiaan pada gerakan serta tingkah lakunya. Tetapi, Aisyah kecil tetaplah seorang bocah yang tidak bisa lepas dari dorongan-dorongan naluriahnya. Ia sangat suka bermain. Teman-teman sepermainannya biasa mendatangi rumahnya dan bermain bersama-sama. Meski begitu, Aisyah tetap menjaga etika ketika Rasulullah SAW. menemuinya. Kisah ini diriwayatkan oleh Aisyah sendiri,

            “Aku biasa bermain bersama teman-temanku. Ketika Rasulullah SAW. datang, mereka langsung bersembunyi. Tetapi beliau justru memerintahkan mereka untuk terus bermain bersamaku.” (HR Bukhari, Muslim dan Ibnu Hibban)

Aisyah dinikahi oleh Rasulullah SAW. ketika ia masih berusia enam tahun. Tujuan paling mendasar dari pernikahan ini adalah untuk mengukuhkan hubungan antara kekhalifahan dan kenabian. Iklim Arab yang panas memang menyebabkan perkembangan fisik perempuan berlangsung dengan cepat. Tetapi, di sisi lain, pribadi-pribadi cemerlang yang memiliki bakat dan potensi tinggi untuk mengembangkan kemampuan intelektual mereka, biasanya juga cenderung untuk mencapai kematangan fisik lebih cepat daripada orang-orang biasa. Di atas semua itu, keputusan Rasulullah SAW. untuk menikahi Aisyah pada usianya yang sangat dini itu menunjukkan bahwa kecerdasan, kematangan, dan kedewasaan berpikir Aisyah memang mencapai sebuah tingkat yang mengagumkan. Rasulullah SAW. dan Aisyah r.a telah terikat oleh hubungan pernikahan sejak di Mekah, meski keduanya baru hidup bersama setelah berada di Madinah. Usia Aisyah pada saat hidup bersama Rasulullah SAW. adalah sembilan tahun.

Kemanjaan dan sifat pencemburu merupakan sifat yang menonjol dalam diri Aisyah. Tetapi dibalik sifat kemnajaan dan pencemburunya itu, ia merupakan perempuan yang sosok keibuannya begitu kental menyatu dalam dirinya. Ia mengasuh, mendidik dan memberi pengajaran tentang ilmu Allah kepada keponakan dan anak-anak kecil di sekitar kediamannya.

 Aisyah juga dikenal sebagai perempuan yang memiliki keberanian dan keteguhan pendirian yang luar biasa. Ia pernah berjalan sendirian menuju Baqi’ pada malam hari tanpa merasa takut dan ragu. Ia juga turut serta dalam banyak peperangan. Pada Perang Uhud, ketika pasukan muslim kacau balau, Aisyah turun tangan bersama para perempuan lain untuk memberikan minum kepada para mujahid. Aisyah juga pernah meminta izin kepada Rasulullah SAW. Untuk ikut berjihad bersama kaum muslimin. Tetapi, beliau justru bersabda bahwa jihad bagi kaum perempuan adalah melaksanakan ibadah haji. (HR Bukhari)        

Aisyah memiliki keistimewaan dibandingkan istri-istri Nabi yang lain dalam hal keleluasaan dan kematangan ilmunya dalam bidang agama, termasuk tentang Al-Qur’an, tafsir, hadits dan fiqih. Ia juga memiliki kemampuan ijtihad yang mengagumkan, pemahaman yang mendalam tentang persoalan-persoalan agama, serta kemampuan merumuskan hukum untuk situasi-situasi baru. Dengan begitu, adalah normal jika Rasulullah SAW. mencintainya melebihi rasa cinta beliau kepada istri-istri yang lain.

Aisyah beruntung karena memperoleh kehormatan untuk menjadi sahabat sekaligus istri terdekat Rasulullah SAW. semenjak kecil hingga menginjak masa remaja. Selama masa-masa yang penuh kebahagiaan itu, Aisyah menjalani hidup di bawah bimbingan dan asuhan Rasulullah SAW. seorang Nabi yang diutus Allah SWT. Dengan misi mnyempurnakan akhlak mulia. Berkat pendidikan yang diteimanya dari Rasulullah SAW. ini, Aisyah mampu mencapai puncak kesempurnaan akhlak. Kehidupan Aisyah merupakan saksi dari keberhasilannya mencapai tingkat tertinggi dari perkembangan spiritual serta ketinggian maknawiah yang bisa dicapai oleh seorang manusia.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Aisyah berada pada posisi terdepan dari deretan orang-orang yang berakhlak mulia. Ia memiliki sifat zuhud dan wara’, taat menjalankan ajaran-ajaan agama, dermawan, murah hati, serta senantiasa bersikap penuh kasih sayang kepada sesama manusia. Sifat-sifat terpuji merupakan bagian tak terpisahkan dari kepribadian Aisyah.

Itulah sebagian kisah dari Aisyah r.a. Semoga dapat dijadikan cerminan bagi setiap perempuan muslim untuk melihat dirinya, memeriksa keadaan jiwanya, lalu berusaha memperindah dan menyempurnakannya dengan teladan yang diambil dari kehidupan Aisyah r.a.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Januari 2010
S S R K J S M
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Universitas Gunadarma

RSS Berita Gunadarma

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Twiwiiit

Goodreads

%d blogger menyukai ini: